Pada hakikatnya pendidikan merupakan
peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia karena
pendidikan dianggap sebagai perbuatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja
untuk membentuk manusia seutuhnya dan menjadikan manusia memiliki kualitas yang
lebih baik, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Guru dan siswa merupakan salah
satu unsur terpenting dalam sebuah pendidikan. Siswa menjadi subyek dalam
proses pelaksanaan pembelajaran dan guru sebagai fasilitator belajar siswa yang
mampu membimbing siswa untuk belajar lebih aktif dan semangat dalam mengikuti
pembelajaran.
Menurut Undang-undang No. 20 tahun 2013
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa dan negara. Ini berarti bahwa
fokus dan tujuan pendidikan bukan hanya aspek masa kini melainkan juga
menyangkut pengembangan sumber daya manusia indonesia yang berkualitas melalui
pendidikan yang merupakan upaya sungguh–sungguh dan terus menerus dilakukan
untuk mewujudkan manusia indonesia seutuhnya.
Belajar IPA merupakan proses
aktif, namun keaktifan secara fisik saja tidak cukup untuk belajar IPA, siswa
juga harus memperoleh pengalaman berpikir melalui kebiasaan berpikir dalam
belajar IPA. Seperti dalam pengertianya IPA merupakan salah satu mata pelajaran
yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa karena banyak konsep yang memuat
tentang ilmu hafalan baik teori maupun rumus. Oleh karena itu di perlukan pengajaran yang efektif sebagai bentuk pengajaran yang menyediakan
kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri
Susetiyono (2010) menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan alam (IPA) dan teknologi dalam abad ini mengalami perkembangan yang
pesat dan diperkirakan akan lebih pesat pada abad-abad yang akan datang. IPA
merupakan ilmu yang mendasari kemajuan teknologi, sehingga harus disajikan
secara merangsang dan menarik, sifat ingin tahu pada anak didik supaya terus
dipupuk dan dikembangkan. Siswa memerlukan kegiatan sehingga terlibat dalam
proses belajar. belajar siswa yang meningkat lebih baik dari sebelumnya.
Penggunaan media pembelajaran secara tepat merupakan hal penting dalam proses
pembelajaran, karena media mempunyai berbagai kelebihan antara lain membuat
konsep yang abstrak dan kompleks menjadi sesuatu yang nyata, sederhana,
sistematis dan jelas (Wena, 2009).
Salah satu solusi yang ditawarkan untuk
mengurangi kebosanan, kesulitan dan kondisi tertekan siswa terhadap mata
pelajaran IPA sekaligus menciptakan suasana pembelajaran adalah mengemas
pembelajaran dengan cara belajar sambil bermain. Salah satu media pembelajaran
yang dapat digunakan adalah media monopoli untuk mata pelajaran IPA terpadu subtema
keanekaragaman hewan dan tumbuhan. Kunci keberhasilan pembelajaran IPA terpadu
dapat dicapai dengan menyediakan media pembelajaran yang mendukung tercapainya
tujuan pembelajaran. Monopoli adalah satu permainan papan dan pemain berlomba
untuk mengumpulkan kekayaan melalui satu pelaksanaan sistem permainan dengan
memasukan petak pertanyaan yang akan dijawab oleh peserta permainan (Wulandari
dan Sukimo, 2012).
Permainan monopoli dipilih karena termasuk
suatu permainan yang relatif digemari anak dan mudah dalam memainkannya. Pada monopoli IPA kali ini, bagian-bagian dari hewan dan tumbuhan dapat dianalogikan sebagai kota atau negara yang
mewakili fungsi-fungsi tertentu pada permainan monopoli. Para pemain monopoli
harus melakukan beberapa hal yaitu menyewakan, membeli dan menjawab pertanyaan.
Konsep media pembelajaran monopoli ini diadopsi dari permainan monopoli secara
umum. Monopoli dipililih karena dengan media ini dapat melatih daya ingat siswa
dalam penguasaan konsep materi, melatih dan mendorong keberanian siswa untuk
mengungkapkan pendapatnya, dan melatih penguasaan dan pemahaman konsep materi.
Untuk mengatasi hal tersebut, seorang guru dituntut untuk lebih kreatif dan
profesional dalam mengajar agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien
dalam mencapai prestasi belajar yang maksimal. Guru perlu memilih metode,
model, sumber belajar serta media pembelajaran yang sesuai agar pengajaran guru
lebih menarik dan materi yang diterima oleh siswa tidak hanya sekedar
sekumpulan konsep.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di
kelas IV SD Negeri Sawah Besar 01 Semarang, memperlihatkan bahwa proses
pembelajaran kebanyakan masih jarang dalam menggunakan media saat menjelaskan pembelajaran. Selain dari guru, faktor dari siswa juga sangat
berpengaruh pada proses pembelajaran dalam mengoptimalkan pencapaian hasil
belajar yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan
pembelajaran yang kurang variatif, yaitu masih berpusat pada guru sehingga
siswa kurang berpartisipasi dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat saat
proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif, dimana pada saat
pembelajaran berlangsung banyak siswa yang kurang memperhatikan dan kurang
aktif dalam mengikuti pembelajaran. Siswa cenderung asik berbicara dengan
temannya, bermain bolpoin mencoret-coret buku tulisnya dan melamun. Sehingga
hasil belajar yang dicapai siswa kurang optimal. Hal ini di lihat dari nilai
siswa kelas IV belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu sebesar
70 dan dibuktikan dari nilai UAS yang mencapai KKM hanya 7 anak saja dan 13
lainnya dibawah KKM. Berdasarkan kenyataan yang telah diuraikan, maka yang
menjadi masalah utama adalah strategi dalam proses pembelajaran. Oleh karena
itu, diperlukan adanya sebuah media pembelajaran yang mudah digunakan dan dapat
dikembangkan oleh guru untuk melatih siswa berpikir ilmiah dan menarik
perhatian siswa agar aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Maka untuk meningkatkan minat belajar
siswa dapat di upayakan dengan cara memilih media pembelajaran yang tepat.
Media pembelajaran yang dipilih harus disesuaikan dengan kemampuan, tujuan dan
dapat menyenangkan siswa, sehingga siswa dapat lebih aktif dalam proses
pembelajaran. Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat
digunakan sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses belajar mengajar
dan sebagai alat untuk menarik perhatian siswa terhadap pembelajaran yang akan
disampaikan. Sehingga saat proses belajar mengajar berlangsung siswa tidak
merasa bosan dan dapat mempengaruhi pada hasil.
Peran media sangat besar pada proses
belajar mengajar untuk meningkatkan minat belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari suatu penelitian tentang penggunaan media dalam proses belajar mengajar.
Hasil penelitian Rizka Indah Sulistiarni (2016) mengenai minat belajar IPA
di SD Negeri Kedungpatangewu Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan menunjukkan data sangat tinggi
21,79%, tinggi 71,79%, rendah 6,41%. Hal ini menunjukkan bahwa minat peserta
didik untuk mempelajari IPA tinggi dan membuktikan bahwa
pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran monopoli lebih efektif
dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Karena dengan media
pembelajaran monopoli siswa menjadi lebih aktif lagi dalam proses pembelajaran,
selain itu pembelajaran yang awalnya hanya berpusat pada guru dengan penggunaan
media pembelajaran monopoli pembelajaran berpusat pada siswa. Pada permainan
monopoli siswa dituntut untuk menguasai materi dengan cara yang menyenangkan
sehingga akan tumbuh minat belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menghasilkan produk media pembelajaran IPA terpadu berupa monopoli IPA yang
layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran.
penuh.
Melalui media pembelajaran monopoli, ilmu pengetahuan yang didapatkan oleh siswa tidak hanya materi saja akan tetapi siswa juga dapat mengetahui cara bermain monopoli agar siswa tidak merasa jenuh atau bosan dalam menerima pelajaran. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar, semangat, kreativitas siswa dalam menerima pelajaran di kelas dan bekerja sama secara berkelompok. Untuk itu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran dan penggunaan media pembelajaran yang tepat agar diperoleh peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas IV.
Melalui media pembelajaran monopoli, ilmu pengetahuan yang didapatkan oleh siswa tidak hanya materi saja akan tetapi siswa juga dapat mengetahui cara bermain monopoli agar siswa tidak merasa jenuh atau bosan dalam menerima pelajaran. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar, semangat, kreativitas siswa dalam menerima pelajaran di kelas dan bekerja sama secara berkelompok. Untuk itu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan minat belajar siswa adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran dan penggunaan media pembelajaran yang tepat agar diperoleh peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas IV.
Berdasarkan uraian diatas peneliti
menentukan judul penelitian Pengaruh Model STAD Berbantu Media Monopoli
Sains Terpadu UntukMeningkatkan Minat Belajar IPA Siswa Kelas IV Subtema
Keanekaragaman Hewan dan Tumbuhan SD Negeri Sawah Besar 01 Semarang.